Pesantren Kilat, Wali Kota Tarakan Tekankan Pembiasaan Ibadah Jadi Tameng Masa Depan Siswa

TARAKAN – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Baitul Izzah Islamic Centre pada Selasa pagi, saat Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes, secara resmi membuka rangkaian Pesantren Kilat Ramadan 1447 H.

Agenda ini terasa lebih istimewa dengan diluncurkannya dua inisiatif besar dalam dunia pendidikan kota, yaitu Program Gerakan Memulai Pembelajaran dengan Membaca Kitab yang dikenal dengan akronim GEMPITA, serta Gerakan Siswa Cinta Sholat atau GESIT LAH.

Kegiatan yang merupakan buah kolaborasi sejumlah instansi, Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Kementerian Agama, serta Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Utara ini, menyatukan ribuan siswa dari jenjang SD hingga SMA dalam satu visi penguatan karakter.

Dalam pidato pembukanya, Wali Kota menekankan bahwa tantangan yang dihadapi anak-anak di era modern tidak lagi bisa diselesaikan hanya dengan teori di atas kertas atau diskusi di dalam kelas. Menurutnya, benteng terbaik bagi anak-anak saat menghadapi pengaruh buruk lingkungan adalah pembiasaan nilai-nilai agama yang dilakukan secara nyata dan konsisten.

Wali Kota menyampaikan pesan mendalam bahwa peran guru dan orang tua memiliki batasan ruang dan waktu.

Ketika seorang anak melangkah keluar ke lingkungan sosial yang lebih luas, maka nilai-nilai yang telah mendarah daging dalam dirinyalah yang akan menjadi kompas moral.

Ia menyoroti bahwa di tengah derasnya arus informasi media sosial dan ancaman penyalahgunaan narkoba, pembekalan spiritual di sekolah maupun di rumah adalah kunci agar anak-anak mampu menilai mana yang baik dan mana yang merusak bagi masa depan mereka.

Melalui integrasi program GEMPITA dan GESIT LAH ke dalam rutinitas sekolah, Pemerintah Kota Tarakan berharap para siswa tidak hanya sekadar mengenal agama sebagai ilmu pengetahuan, melainkan menjadikannya napas kehidupan sehari-hari. Siswa didorong untuk tidak canggung lagi dalam membaca Al-Qur’an, memimpin sholat sebagai imam, hingga berani berdiri menyampaikan khutbah.

Langkah ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh dan berakhlak mulia dalam menghadapi dinamika zaman yang kian kompleks. (Prokopim Tarakan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *