UT Tarakan Dorong Pengelolaan Objek Wisata Berbasis Masyarakat Tane’ Olen Desa Setulang

MALINAU, NEAZONE.ID – Menjaga warisan hijau di tengah gempuran modernisasi adalah tantangan besar bagi warga Desa Setulang. Menjawab panggilan itu, para mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Tarakan melangkah masuk ke dalam rimba Malinau Selatan Hilir tepatnya di Hutan Adat Tane’ Olen, Desa Setulang. Mereka datang bukan untuk mengganti tradisi dengan modernitas, melainkan memeluk kearifan lokal tersebut dan memperkuat pundak warga desa agar mampu berdiri tegak sebagai pengelola mandiri di atas tanah mereka sendiri.

Niat tulus ini berakar dari komitmen mendalam institusi yang ingin melihat mahasiswanya menjadi suluh di tengah kegelapan. Direktur UT Tarakan, Jeji Muhamad Najib, S.Kom, memandang bahwa esensi tertinggi dari pendidikan adalah ketika ilmu yang didapat di bangku kuliah mampu menyentuh dan mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga hadir memberikan solusi nyata di lapangan. UT Tarakan berkomitmen mendampingi warga Desa Setulang agar mampu mengelola kekayaan adat Tane’ Olen secara profesional dan mandiri,” tutur Jeji Muhamad Najib, menyalakan semangat pengabdian.

Langkah nyata pun dirajut. Menyadari bahwa mimpi besar membutuhkan fondasi yang kokoh, para mahasiswa mulai mengurai simpul mati persoalan permodalan yang selama ini menghambat fasilitas wisata. Dengan hati dan pemikiran yang terbuka, mereka duduk bersama warga, memetakan peluang dan mencari alternatif pendanaan demi mewujudkan kemandirian ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh desa.

Semangat bergotong-royong semakin menyala ketika ruang-ruang balai desa diubah menjadi wadah bertukar pikiran melalui Focus Group Discussion (FGD). Tidak ada sekat antara akademisi dan masyarakat adat; semuanya melebur dalam satu visi. Dari diskusi hangat ini, lahir kesadaran baru tentang bagaimana menyambut wisatawan dengan kehangatan khas Dayak, tanpa sedikit pun mencederai kelestarian hutan yang mereka sakralkan.

Keajaiban sejati terjadi ketika para mahasiswa mulai menjembatani sunyinya hutan adat dengan riuhnya dunia digital. Melalui jemari kreatif dan gawai di tangan, mereka melatih para pemuda desa untuk meramu pesona mistis Tane’ Olen menjadi konten-konten estetik di TikTok, Instagram, dan Facebook. Seketika, keindahan tersembunyi Malinau melompat ke layar kaca ribuan orang, memikat hati publik di tingkat regional hingga nasional.

Langkah kaki para mahasiswa mungkin akan kembali ke kampus, namun jejak pengabdian mereka telah tertanam dalam di sanubari warga Setulang. Melalui papan penunjuk arah yang terpasang rapi dan tempat sampah daur ulang yang mereka buat bersama, ada pesan kuat yang ditinggalkan: bahwa masa depan bumi dan kesejahteraan manusia bisa berjalan beriringan. Kolaborasi ini adalah bukti otentik bahwa di tangan pemuda yang peduli, warisan leluhur tidak akan pernah punah, melainkan tumbuh subur menjadi kebanggaan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *